“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#22 May 18, 2008
Ada yang mau kasih coment, silahkan posting.
musykil

Malaysia

#23 May 18, 2008
sungguh terharu dgn kesah2 mereka yg diberi hidayah untuk mendapat rahmat ILAHI,
wahai cucu Adam,teruskan cerita2 ini
oke

Jakarta, Indonesia

#24 May 18, 2008
Adzan itu Masih Terngiang di Telingaku
Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.
Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).
Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya:“Hi, what’s your name and where are you from?” Dengan sedikit tersenyum dia menjawab:“Hi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texas”. Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya:“How come you said salaam in way that’s so perfect? I tended not to believe that you’re an American”.“Oh..I know Arabic and speak it fluently” jawabnya cepat.
Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab.“Aena darasti al Arabiyah?” tanyaku.“Darastuha fi Suriyah, lakin qabla sanawaat”, jawabnya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI (Department of Public Information) PBB New York.
Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya mengetahui Islam.“I know a lot about Islam. Basically I am coming this morning because I feel this is the right time for me”, katanya.“What do you mean the right time?” tanyaku. Dengan sedikit serius dia menjelaskan:“For the last many years, about 10 years, I have been so confused and struggling within my self”.“Why is that?” tanyaku dengan sedikit heran.
oke

Jakarta, Indonesia

#25 May 18, 2008
Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata.“You know, I tried my best not to this”, katanya sambil mengusap air matanya.“Why is that?” tanyaku.“This may kill my career” katanya agak gusar. Saya kemudian bertanya dengan serius:“What do you mean killing your career?”. Seolah memaksakan tersenyum, Jemie mengatakan bahwa dia khawatri kalau masuk Islam akan susah meniti karir yang lebih tinggi.
Saya kemudian bertanya lebih jauh:“Why do you think in that way?”. Ternyata karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.
Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi “kesemrawutan” dalam hidup.
Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjnag itu nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir.“In fact, Islam wants all Muslim women to be professional. Didn’t you read the hadith that commands the women to study as men?”, jelasku.
Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan. Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan:“I have some thing to tell you!”“What’s that?” tanyaku. Dia dengan nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata mengatakan:“When I was in Syria around ten years ago, I was so impressed with the Adzan”. Saya mengatakan bahwa memang adzan orang-orang Suriah itu indah.“Their voice is softer than other Arabs, kata saya.“But I swear, that adzan never gone from my ear. I feel being listening to it all the time” katanya serius.
Tanpa sadar, saya langsung mengatakan “Subhanallah!”. Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian mengatakan:“Sister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with that”. Nampak Jemie hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.
Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!
Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!(M. Syamsi Ali untuk Hidayatullah)
M. Syamsi Ali, adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Beliau adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York"
Maria Al-Maryami

Bandung, Indonesia

#26 May 18, 2008
saya nda ngerti apa muallaf atau bukan ya? Bapak kristen protestan dan ibu islam...
Akta kelahiran kristen protestan...
Tapi sejak kecil sudah dijaga dengan baik oleh ibu dan dimasukkan ke SD islam

Bapak tidak pernah ke gereja tapi kalau mau diskusi tentang Al Kitab oke...
Ibu jarang sekali shalat... Tapi selalu berdoa semoga bisa membawa Bapak masuk Islam

Suatu hari nan cerah di waktu SMA, Bapak berpesan supaya kalau melakukan sesuatu jangan setengah-setengah,
tersentak juga...AGAMAKU APA?
Karena selama ini punya label Islam, akhirnya bertekun untuk mempelajari Islam. Sampai kuliah...

Sampai satu waktu, Bapak meregang menuju kematiannya... Dia minta, tolonglah ada satu anaknya mengikutinya,
tapi, tidak bisa.. sudah tidak bisa...
Saat dia sudah koma, saya bersujud mohon kesempatan sekali ini kepada Ar-Rahim, yang terakhir
memberikan kesempatan Bapak untuk menjadi hambaNya
Serasa bertemu hati dan tanpa dinding
Merasa berdekatan dengan sungguh kedekatan kepada Al-Latif

Dan Bapak yang koma itu bisa berucap "La ilaha illallah"

Dan sujud syukur... sudah ikhlas hati ini melepasnya...

Tapi dari koma itu, ternyata dia punya kesempatan sekali lagi untuk hidup
Nampak tajam dari matanya penolakan pengakuan yang pernah dia sebut dulu...
Baiklah... tidak pernah terucap di bibir saya bahwa pernah ia mengatakan pengakuan itu di satu masa
Untuk apa?

Lalu ternyata dia pergi untuk selamanya... sakit ginjal yang sudah sangat parah
Jadi untuk apa pengakuan itu Ya Ar Rahim?
Oh, untuk menegur saya...
Wahai... Jikalau ruh itu akan jujur... Sungguh dia akan mengakui "Tiada Ilah selain Allah"
Tapi tembok ego sudah terlalu tebal sehingga teringkari kata hati yang jujur dan terdalam itu...

semoga bisa menjadi bahan perenungan
aku

Malaysia

#27 May 18, 2008
ye,aku juga mahu tahu pendapat kebanyakan tentang perkahwinan campur (islam cmpur agama lain)melalui perkahwinan sivil spt yg sering kedengaran di india & juga indonesia;
bagaimana mungkin perkahwinan itu terjadi,namun yg pasti si anak yg lahir tetap suci tanpa dosa.

Since: May 08

Bandung, Indonesia

#28 May 18, 2008
Lady and Souly Rodriguez

Sekitar pukul 5 sore Senin kemarin, 13 Maret 2006, The Islamic Cultural Center of New York sebenarnya agak sepi. Saya juga sebenanrnya sudah bersiap-siap untuk pulang dan kembali ke kantor perwakilan RI untuk PBB New York. Resepsionis juga telah pulang sehingga kantor di Islamic Center memang telah kosong.

Tiba-tiba security datang ke kantor dan memberitahu jika ada dua orang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya katakan, "Tunggu karena saya sudah bersiap-siap untuk berangkat."ť. Saya pun keluar ke ruang tunggun menemui mereka. Ternyata keduanya adalah gadis belia, kakak beradik. Yang tua bernama Lady Rodriguez berumur sekitar 20 tahun dan adiknya bernama Souly (menurutnya dari kata Soul) berumur sekitar 17 tahun. Keduanya adalah pelajar.

Sambil mempersilahkan duduk dengan tenang, saya memulai dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Biasanya menanyakan nama, keluarga, sekolah, dll. Lalu dari mana mengenal Islamic Center dan juga pernahkan mendengar Islam sebelumnya, atau buku apa yang dibaca tentang Islam. Yang mengejutkan, ternyata keduanya mengenal Islam hanya dari internet. Bahkan ketika saya Tanya, apakah sudah punya Al Qur'an? Keduanya mengatakan bahwa mereka belum memilikinya, hanya sudah membacanya juga lewat internet.

Yang mengejutkan juga, di saat saya menjelaskan dasar-dasar keimanan (rukun Iman), tiba-tiba mata si Lady berkaca-kaca dan mengucurkan airmata. Ketika saya Tanya, apa gerangan yang menjadikannya menangis? Dijawabnya dengan terbata, "I feel happy." Saya tanya lagi, "Why?."ť Dijawabnya: "Because I have what I am looking for, my God.". Sementara adiknya hanya tersenyum mendengarkan penjelasan saya dan sekali-sekali mangguk-mangguk.

Saya menjelaskan rukun Iman, rukun Islam, tentu dengan membandingkan konsepsi iman dan ibadah antara Islam dan Katolik. Selain itu juga saya jelaskan tentang konsepsi Islam itu sendiri dalam kehidupan nyata manusia. Bahwa Islam itu adalah kehidupan kita. Dengan aturan Islam itulah kita hidup dengan lebih sehat dan bahagia. Beberapa hal memang saya rincikan, sepertyi pelarangan makan babi, minum Khamar, judi, hubungan tanpa nikah, dll. Tentu saya juga jelaskan bagaimana menjaga hubungan silaturrahim dengan semua pihak, khususnya dengan orang tua dan sanak keluarga.

Since: May 08

Bandung, Indonesia

#29 May 18, 2008
Tanpa terasa, hampir sejam saya menjelaskan Islam kepada kedua gadis belia ini. Pada akhirnya saya tawarkan jika ada pertanyaan atau hal-hal yang perlu diklarifikasi. Keduanya menggelengkan kepala. Sayapun katakana, "Thank you for coming. Hopefully your have learned something about Islam." Tidak lupa saya katakan: "I will give you some reading materials. Read them carefully, and if you feel that Islam is the right way for you, come back again."

Tapi saya terkejut tiba-tiba Lady sekali lagi meneteskan airmata dan mengatakan, "I am ready." Hampir tidak percaya karena belajar Isalam dari internet tentu banyak misleading. Saya tanyakan jika orang tuanya tahu mengenai niatnya untuk masuk Islam. Lady menjawab, "My mom knows and she respect my decision." Segera saya mencari seorang Muslimah di masjid untuk mengajarnya mengambil wudhu. Rencanya syahadat akan saya bimbing menjelas didirikan shalat magrib sekitar pukul 6 sore itu.

Setelah selesai berwudhu, lebih mengejutkan lagi, ternyata adiknya juga ikut mengambil air wudhu dan menyatakan tekad mengikuti kakaknya masuk Islam. Alhamdulillah, setelah azan magrib sore kemarin, dengan memuji kebesaran Ialhi saya tuntun kedua gadis ini mengucapkan, "Ash-hadu an Laa ilaalah illaLLAH wa Ash-hadu anna Muhammadan rasulullah" disaksikan oleh ratusan jama'ah magrib di Islamic Center dan disambut dengan pekik ALlahu Akbar!

Iqamah untuk shalat magrib dikumandangkan. Lady dan Souly kini menjalankan shalat pertamanya sebagai Muslimah. Doaku mengiringi, semoga kalian berdua dikuatkan dan dituntun selalu ke jalan yang diridhaiNya.

Since: May 08

Bandung, Indonesia

#30 May 18, 2008
Masuk Islam Karena Fatwa Babi
Stefanus R. Sumangkir, Mantan Pendeta

Sudah lama Stefanus R. Sumangkir bergerak membangun kelompok yang menjadi
ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru masuk Islam) di Tegal, jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang. Kelompok itu berusaha untuk mandiri. Dana untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan. "Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami Islam," ujar Sumangkir.

PENGINJIL
Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil. Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah teologi di Malang, jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.

Dia sempat dikirim ke Desa Karanggedang, Kabupaten Cilacap, jawa Tengah untuk misi Kristenisasi. Di desa yang mayoritas berpenduduk eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi, Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk Kristen.

Di Karanggedang ini Sumangkir mengaku kali pertama mendapat hidayah dari Tuhan. "Saat saya menemui seorang yang akan kami Kristen-kan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, Kristen menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya kebingungan," ujarnya mengenang.

Since: May 08

Bandung, Indonesia

#31 May 18, 2008
HARAMKAN BABI
Sejak itu dia mencoba membuka-buka Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11 ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah. Namun, para pendeta Kristen saat mengajar di gereja-gereja tak menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu, Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak berkenan bagi majelis gereja. la pun langsung diskors. Nama Stefanus Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.

Saat itu Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16 tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.

Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar yang memutar film Ramadan berjudul jamaludin Al Afghani. Film tentang tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam. Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia membangun Paguyuban Mualaf Kallama.

DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL
Mulanya, kelompok ini menggelar pengajian rutin setiap rnalam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di jalan Murbei No. 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Mereka biasanya memanggil ustad untuk menambah ilmunya. Anggota paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir ini terkadang harus lapang dada diperlakukan tidak adil.

Perlakuan seperti ini, misalnya pernah dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya bekerja terbilang kondusif.

Since: May 08

Bandung, Indonesia

#32 May 18, 2008
Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap jumat pamit ke masjid untuk salat jumat, pemilik toko menjadi kurang berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.
Karena kebutuhan ekonomi, akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian menjadi berkurang. "Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan," tutur Sumangkir.

Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, yang juga mualaf, yang tiap hari berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi ajang usaha bersama.

Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan peralatan seperti kompresor dan peralatan sablon yang harganya cukup mahal.

Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama.
Anti Jihad

Jakarta, Indonesia

#33 May 19, 2008
wuahhh, mengharukan sekali...., tapi mengapa sepupu saya yg dulu mualaf karena menikah sama muslim tapi murtad lg dr islam ya??. Ternyata setelah diselidiki suaminya pengen poligami, hahahaha. Dasar islam taunya cuman wanita dan sex :)

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#34 May 19, 2008
BAgi yang punya koleski kisah hidup dari para MUALAF silahkan posting di sini.

OK>

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#35 May 19, 2008
Dr. MUHAMMAD SYAFII ANTONIO, MSc (NIO CWAN CHUNG)
EKONOM ISLAM

BAGIAN PERTAMA

Saya lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 mei 1965. Nama asli saya Nio Cwan Chung (sekarang M. Syafii Antonio). Saya adalah WNI keturunan Tionghoa. Sejak kecil saya mengenal dan menganut ajaran Konghucu, karena ayah saya seorang pendeta Konghucu.

Selain mengenal ajaran Konghucu, saya juga mengenal ajaran Islam melalui pergaulan di lingkungan rumah dan sekolah. Saya sering memperhatikan cara-cara ibadah orang-orang muslim. Kerena terlalu sering memperhatikan tanpa sadar saya diam-diam suka melakukan shalat. Kegiatan ibadah orang lain ini saya lakukan walaupun saya belum mengikrarkan diri menjadi seorang muslim.

Kehidupan keluarga saya sangat memberikan kebebasan dalam memilih agama. Sehingga saya memilih agama Kristen Protestan menjadi agama saya. Setelah itu saya berganti nama menjadi Pilot Sagaran Antonio. Kepindahan saya ke agama Kristen Protestan tidak membuat ayah saya marah. Ayah akan sangat kecewa jika saya sekeluarga memilih Islam sebagai agama.

Sikap ayah saya ini berangkat dari image gambaran buruk terhadap pemeluk Islam. Ayah saya sebenarnya melihat ajaran Islam itu bagus. Apalagi dilihat dari sisi Al Qur'an dan hadits. Tapi, ayah saya sangat heran pada pemeluknya yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran agamanya.

Gambaran buruk tentang kaum muslimin itu menurut ayah saya terlihat dari banyaknya umat Islam yang berada dalam kemiskinan,keterbelakangan,dan kebodohan. Bahkan, sampai mencuri sandal di mushola pun dilakukan oleh umat Islam sendiri. Jadi keindahan dan kebagusan ajaran Islam dinodai oleh prilaku umatnya yang kurang baik.

Kendati demikian buruknya citra kaum muslimin di mata ayah, tak membuat saya kendur untuk mengetahui lebih jauh tentang agama islam. Untuk mengetahui agama Islam, saya mencoba mengkaji Islam secara komparatif (perbandingan) dengan agama-agama lain. Dalam melakukan studi perbandingan ini saya menggunakan tiga pendekatan, yakni pendekatan sejarah, pendekatan alamiah, dan pendekatan nalar rasio biasa. Sengaja saya tidak menggunakan pendekatan kitab-kitab suci agar dapat secara obyektif mengetahui hasilnya.

Berdasarkan tiga pendekatan itu, saya melihat Islam benar-benar agama yang mudah dipahami ketimbang agama-agama lain. Dalam Islam saya temukan bahwa semua rasul yang diutus Tuhan ke muka bumi mengajarkan risalah yang satu, yaitu Tauhid. Selain itu, saya sangat tertarik pada kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur'an. Kitab suci ini penuh dengan kemukjizatan, baik ditinjau dari sisi bahasa, tatanan kata, isi, berita, keteraturan sastra, data-data ilmiah, dan berbagai aspek lainnya.

Ajaran Islam juga memiliki system nilai yang sangat lengkap dan komprehensif, meliputi system tatanan akidah, kepercayaan, dan tidak perlu perantara dalam beribadah. Dibanding agama lain, ibadah dalam islam diartikan secara universal. Artinya, semua yang dilakukan baik ritual, rumah tangga, ekonomi, sosial, maupun budaya, selama tidak menyimpang dan untuk meninggikan siar Allah, nilainya adalah ibadah. Selain itu,disbanding agama lain, terbukti tidak ada agama yang memiliki system selengkap agama Islam.Hasil dari studi banding inilah yang memantapkan hati saya untuk segera memutuskan bahwa Islam adalah agama yang dapat menjawab persoalan hidup.

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#37 May 19, 2008
MUALAF TIONGHOA YANG TERBUANG DARI KELUARGA

Tidak terlintas sedikit pun dalam benak A Meng alias Parlan (28) yang menjadi muslim sejak 2002 akan dikucilkan, bahkan tidak diakui oleh orangtua, sanak keluarga dan oleh lingkungan etnis Tionghoa. Rongrongan demi rongrongan datang dari orang tua dan sanak keluarga ketika dirinya harus memutuskan akan keluar dari kepercayaan sebelumnya. Tetapi dengan keteguhan dan kemantapan yang ia yakini akhirnya dia memutuskan menjadi mualaf.
Meskipun harus "terbuang", terusir dari keluarga besarnya dan lingkungan sekitar yang tidak lagi menganggap A Meng yang dulu lagi, melainkan sosok manusia yang berubah setelah memeluk agama Islam menurut pandangan etnis Tionghoa.

Tetapi hari demi hari ia lewati dengan penuh duka. Berbekal baju "sehelai sepinggang", ia meninggalkan rumah dan sanak keluarga yang berada di Wajok Hilir, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak, Kalbar, yang berjarak belasan kilometer dari Ibu Kota Pontianak.

Ketika itu ia masih belum membina rumah tangga, sehingga sempat hidup terlunta-lunta tanpa tahu kemana hendak menjejakkan langkah kakinya untuk menyongsong masa depan.

"Saya waktu itu sempat tidur di sebuah masjid di kawasan Wajok Hilir dalam beberapa minggu, yang terkadang makan satu atau dua kali dalam sehari itu pun atas belas kasihan warga yang prihatin melihat kondisi saya," kata Parlan yang kini sudah mempunyai dua anak buah hati pernikahannya dengan Sumiati (25).

Karena ada warga yang prihatin melihat kondisinya, maka ia ditawarkan bekerja di sebuah perusahaan kayu, PT Liberty, di Wajok Hilir. Setelah mendapat pekerjaan, kondisinya lambat laun mulai membaik.

Hari demi hari ia lalui dengan penuh suka-cita sambil memperdalam agama Islam. Hingga tibalah ujian yang kedua yang ia alami yaitu ketika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran oleh pemilik perusahaan pada tahun 2005.

Ia salah satu dari ratusan karyawan yang terkena PHK, akibatnya Parlan harus banting stir untuk meneruskan hidupnya. Dalam masa sulit itulah ia bertemu dengan Sumiati yang kini menjadi pendamping hidupnya.

"Setelah saya kawin, lantas membuka usaha jual goreng pisang di kawasan Siantan, karena usaha yang ditekuni berjalan lancar, hingga kini saya masih berjualan goreng pisang, dan Alhamdulillah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Menurut dia, kisah etnis Tionghoa mualaf seperti yang ia alami, hampir terjadi di kebanyakan warga Tionghoa yang menjadi muslim. Karena itu, pengalaman pahitnya, hendaknya tidak dialami oleh orang lain yang memutuskan akan memeluk agama Islam.

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#38 May 19, 2008
lanjutan.....(bagian ke dua)

Bagai berlian Kecil Tapi Berharga

Sementara menurut Chau Joe Him alias Amin Andika (43), mualaf Tionghoa hendaknya bisa menjadi berlian. "Walau pun kecil namun berharga di mata kaum muslim dan kalangan Tionghoa non-muslim.

Amin adalah sosok mualaf yang sangat berperan aktif dalam memberikan motivasi kepada para mualaf lain yang hidup dalam kesusahan akibat terbuang dari keluarga dan lingkungan karena berpindah keyakinan.

"Kami mualaf dari Tionghoa minoritas dari minoritas. Tetapi dari jumlah yang sedikit itu saya berharap bisa seperti berlian, biar kecil tetapi berharga di mata kaum muslim itu sendiri serta di kalangan Tionghoa yang non-muslim," kata Amin Andika, yang juga Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalimantan Barat.

Ia menjelaskan, para mualaf Tionghoa harus bisa membuktikan bahwa dengan berpindah keyakinan, bukan berarti putus segalanya. Melainkan lebih mempererat tali silaturahmi antarkeluarga yang tidak mungkin bisa dipisahkan.

Amin Andika lantas mempertanyakan, mengapa jika pindah agama selain Islam, bisa diterima di kalangan keluarga? Tetapi ketika berpindah ke agama Islam, ditolak keras oleh keluarga dan lingkungan. "Bahkan tidak sedikit dari kami yang tidak diakui sebagai anak oleh orangtuanya," kata pria berkulit putih tersebut.

Atas pertimbangan adanya penolakan dari keluarga dan sahabat itulah, PITI dibentuk sejak tahun 1986 di Kalbar. Misinya, tak lain adalah menggalang keutuhan beragama di kalangan mualaf dari Tionghoa yang memang sangat membutuhkan pertolongan dari kaumnya.

"Apalagi 95 persen dari sekitar 14 ribu mualaf dari Tionghoa adalah kalangan kelas sosial masyarakat menengah ke bawah. Ekonomi lemah atau miskin, karena kebanyakan yang masuk Islam diusir dari keluarga tanpa membawa harta benda," katanya.

Menurut pria yang memiliki kegemaran memelihara ikan hias itu, peranan PITI sangat dibutuhkan untuk membimbing para mualaf yang kehidupannya di bawah garis kemiskinan, sehingga mereka bisa memegang teguh pilihan yang telah mereka tentukan untuk masa depannya.

"Kondisi mualaf Tionghoa saat ini masih banyak yang hidup memprihatinkan, kita berharap mereka tidak dikucilkan dari keluarga hanya karena perbedaan aqidah," katanya pria dengan tiga putra itu.

Amin menyatakan, anggota PITI Kalbar saat ini sudah berjumlah 14 ribu umat. Sementara etnis Tionghoa berjumlah sekitar 12 persen dari total penduduk Kalbar yang mencapai 5 juta jiwa.

Ketua PITI yang juga seorang pengusaha ikan hias kelahiran Pontianak, 1964 silam, itu menaruh harapan besar agar teman-temannya, sesama Tonghoa muslim, kini mendapat tempat yang layak di lingkungan keluarga mereka.

Demi meningkatkan taraf kehidupan mualaf Tionghoa, Amin kini juga mempunyai berbagai usaha yang diperuntukkan bagi mualaf Tionghoa yang tergolong tidak mampu.

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#39 May 19, 2008
lanjutan......(bagian ketiga)

Bersama seorang istri, Sri Lianti (38) yang setia mendampingi, di usia yang memasuki setengah abad, Amin Andika, menyebarkan agama Islam di kalangan Tionghoa dan keluarga. Bersama tiga buah hatinya, Rihat Andika (17), Malsul Vernanta Andika (15), dan Insarel Andika (12), mereka tinggal di Jl Parit Haji Husin II, Kecamatan Pontianak Selatan.

Ia menceritakan, bagaimana pengalamannya ketika akan berpindah agama, yaitu dengan melakukan pendekatan kepada keluarga dan memberikan pengertian, dengan kepindahannya tidak akan merusak hubungan keluarga yang selama ini sudah terbina

"Saya berharap mualaf Tionghoa bisa diterima di kalangan etnis Tionghoa, sehingga tidak ada perbedaan di antara kita," katanya penuh harap.

Tidak Berbeda

Menanggapi ungkapan para mualaf Tionghoa itu, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalbar, Erick S. Martio mengatakan, perbedaan kepercayaan merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Jangan sampai masyarakat memandang perbedaan kepercayaan dalam satu rumah tangga menjadi perpecahan, tetapi jadikanlah sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ia mengatakan, pandangan bahwa Tionghoa yang memutuskan memeluk agama Islam harus dikucilkan, suatu pandangan yang salah besar, karena tidak sedikit dijumpai saat ini, Tionghoa yang memeluk agama Islam.

"Bahkan tidak sedikit pengurus MABT yang beragama Islam. Semua agama sama yang penting bagaimana seseorang membawa dan mengamalkannya sehingga berguna bagi diri sendiri dan orang lain," kata Erick.

Sejak MABT didirikan tahun 2004, keanggotaannya memang dari kalangan Tionghoa, tetapi tidak ada batasan agama, siapa saja boleh masuk anggota asal dia dari etnis Tionghoa. "Kita tidak membedakan agama, bahkan MABT membantu salah satu kegiatan sosial PITI dalam memberikan bantuan sembilan bahan pokok bagi masyarakat tidak mampu," katanya.

Ia menyatakan, adalah penilaian yang salah besar kalau banyak orang memandang mualaf dari Tionghoa harus dikucilkan, bahkan agama Islam pertama kali dibawa ke Indonesia oleh Tionghoa.

Sebagai contoh bentuk kepedulian itu, ia wujudkan dengan ikut sertanya dalam kegiatan buka puasa bersama. "Saya tidak terusik dengan bulan Ramadan bagi umat muslim. Malah saya sering mengikuti buka bersama yang diselenggarakan oleh teman-teman mualaf," katanya.

Cerminan toleransi beragama juga sangat terasa di Pontianak saat ini. Sejumlah tokoh Tionghoa membuat acara khusus mengundang rekan, kolega, dan relasi untuk berbuka puasa bersama. Suasana sejumlah tempat makan di Kota Pontianak juga mewujudkan toleransi itu dengan memasang tabir penutup, sehingga tidak menyinggung warga yang sedang berpuasa.

Erick mengajak adanya warna-warni perbedaan itu sebagai kekayaan. Dan jangan melihatnya sebagai perbedaan yang pada akhirnya menjadi perpecahan. "Jadikanlah perbedaan sebagai wujud kebersamaan untuk membangun Kalbar di masa mendatang," katanya.

Since: May 08

Bandung, Indonesia

#40 May 20, 2008
bentar2 nih aku msh punya byk kisah2 muallaf.

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#41 May 24, 2008
Jealous_Angel wrote:
bentar2 nih aku msh punya byk kisah2 muallaf.
Mana ceritanya nih, udah gue tunggu seminggu lho kok belum di posting juga.

“ISLAM IS THE BEST”

Since: May 08

DI KAKI LANGIT DI ATAS BUMI

#42 May 24, 2008
JOSEPH ESTES : ISLAM ADALAH AGAMA ORANG BERAKAL

Kisah Mantan Pastor yang mendapat Hidayah Islam

BAGIAN I

Terikat dalam keluarga yang memegang ajaran Kristen dengan kuat. Keluarga dan nenek moyang kami tidak hanya mendirikan gereja dan sekolah Kristen di Midwest, tapi merupakan keluarga pertama yang menempati daerah itu. Kami adalah Kristen yang taat.

Saat remaja, aku ingat benar ketika aku minat sekali untuk tahu tentang Gospel atau sering di sebut “Kabar baik”, ajaran dari Kristen. Hal ini membuatku makin ingin belajar tentang banyak agama. Tapi tidak terhenti hanya pada agama Kristen. Sama sekali tidak. Aku pun mengkaji agama Hindu, Yahudi, Buddha, metafisik, dan keyakinan asli orang Amerika (suku Indian). Namun hanya satu agama yang tidak saya kaji, yaitu Islam. Ayahku aktif mengikuti kegiatan gereja, terutama sekolah gereja. Ia dan istrinya (Ibu tiriku) mengenal banyak penginjil dan pengkhotbah di TV.

Pada tahun 1991, ayah mulai menjalin usaha dengan orang Mesir dan memintaku untuk menemuinya. Dan ayahku menyebutkan bahwa orang Mesir itu seorang Muslim. Saat itu, aku tak mempercayainya. Seorang muslim? Aku akan bertemu dengan seorang Muslim? Bahkan aku belum pernah menemui orang muslim sebelumnya. Seperti apakah dia? Ayahku pernah bilang kalau oarng muslim itu bengis dan teroris. Mereka suka main bom sana sini dan pekerjaannya mencium tanah lima kali sehari, lalu menyembah kotak hitam di gurun.

Pada saat menemuinya, aku memakai seluruh perhiasan Kristenku. Aku membawa injil, memakai kalung salib dan memakai topi bertuliskan “Tuhan Yesus”. Tapi yang kudapatkan adalah sebaliknya, orang muslim dari Mesir itu tidak mengenakan hal-hal yang mengerikan yang mencirikan seorang muslim fanatik. Ia tidak memakai kalung bertuliskan nama Tuhan mereka, tidak pula membawa kitab mereka. Ia pun seorang yang ramah.

Setelah perkenalan singkat, aku mulai mengorek informasi tentang Islam. Dan kudapati hal yang mengejutkan, bahwa muslim itu mempercayai Tuhan, percaya dengan adanya Adam, Hawa, Abraham (Ibrahim), Moses (Musa), David (Daud), Solomon (Sulaiman), bahkan ia juga percaya dengan Injil dan Isa. Apa-apaan, pikirku. Bagaimana bisa kami, yang berbeda agama mempercayai hal yang sama??

Nama orang Mesir itu, Muhammad. Ketika kami makin akrab atas nama bisnis, Muhammad dan aku sering pula bertemu dan diskusi seputar Islam dan Kristen. Aku mulai memamerkan berbagai macam versi Injil. Dari mulai versi James yang lama dan yang baru, versi Jimmy Swaggart, Injil Katolik dan Protestan. Sedangkan Muhammad, menunjukkan bahwa ia hanya mempunyai satu buah versi Al-Quran. Aku terkesima dengan Al-Quran yan terjaga rapi dan dapat dibaca dengan mudah juz per juz.

imageLebih mengejutkannya lagi adalah ketika Muhammad membawaku ke Masjid, menjumpai seorang pendeta Katolik yang aku kenal telah masuk Islam. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana dengan ikhlas kurasakan mantan Pendeta Katolik itu mengatakan bahwa ia telah kembali ke pangkuan Islam? Aku sadar dan benar-benar terkejut bahwa disamping mempercayai Taurat dan Injil, mereka juga mempercayai kalau Yesus adalah utusan Tuhan, bukti mukjizat kelahiran manusia tanpa campur tangan manusia, Messiah yang disebutkan dalam Injil. Muhammad juga mengatakan bahwa Yesus saat ini bersama dengan Tuhan dan yang paling penting bahwa ia akan kembali pada Hari Akhir untuk memimpin orang beriman melawan anti-Tuhan (LudiChrist). Ini semua ada dalam kepercayaanku sebagai seorang Kristen. Mengapa ayahku dan yang lainnya mengatakan bahwa Islam salah kaprah jika ajarannya sama dengan ajaran yang tengah kusebarkan ke seluruh pelosok Amerika?

Tell me when this thread is updated:

Subscribe Now Add to my Tracker

Add your comments below

Characters left: 4000

Please note by submitting this form you acknowledge that you have read the Terms of Service and the comment you are posting is in compliance with such terms. Be polite. Inappropriate posts may be removed by the moderator. Send us your feedback.

Malaysia Discussions

Title Updated Last By Comments
DEBAT ISLAM VS KRISTEN. Fakta: ISLAM GAK AKAN M... (Jun '13) 9 min wkwkwkwkwkwkwk 78,542
Orang Sunda jauh lebih Modern ketimbang Jawa (Dec '12) 16 min Sukirto 201
Artis yang Ternyata Islam (surprise).... (May '08) 56 min oenfailian 284
FORUM LONTE/GIGOLO (Silakan Isi) (Jul '09) 2 hr jas 27,558
OM ROGER, TNI gay berpangkat kopral (Oct '11) 2 hr adit pratama 145
KENAPA SUKU JAWA BANYAK Yang KRISTEN? (Sep '09) 3 hr legikhoirul 669
Makan TAHI BERLENDIR..wow..Sedap nyer (Mar '09) 3 hr doraYamon 6,159
Saya baby mila , cewek bispak (Apr '08) 4 hr jenifer wijayanto 13,131
NKRI KETIPU, Dl JERMAN LEOPARD ADALAH RONGSOKAN 5 hr Mandau tuumpul 69
AKU GAY mau isap KONTOL/KOTE (Mar '10) 12 hr Firman 9,492

Malaysia People Search

Addresses and phone numbers for FREE