|
Andi Liani
Perth, Australia
|
Kodok wrote: <quoted text> lucu apanya? heran ya... di TL nggak ada khan??... hehehe.. Gara-gara pemberitaan juara olimpiade fisika yang terlalu bombastis dan mengubar mimpi meraih, mahasiswa Indonesia dipermalukan. Ada seorang mahasiswa Indonesia mengaku bahwa salah seorang putra Indonesia telah meraih Nobel Fisika, yaitu Septianus Sah. Dia mengaku dihadapan para bule dari berbagai negara di sebuah pertemuan kecil (peserta 50 orang) disebuah kota di Australia. Sontak semua terkejut, lalu seorang bule dari Hungaria yang kebetulan laptopnya online langsung ngecek di internet. Ternyata, tidak ada nama Septianus di sana. Aduh malunyaaaaa....
|
|
Kodok
Pusan, Korea
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Gara-gara pemberitaan juara olimpiade fisika yang terlalu bombastis dan mengubar mimpi meraih, mahasiswa Indonesia dipermalukan. Ada seorang mahasiswa Indonesia mengaku bahwa salah seorang putra Indonesia telah meraih Nobel Fisika, yaitu Septianus Sah. Dia mengaku dihadapan para bule dari berbagai negara di sebuah pertemuan kecil (peserta 50 orang) disebuah kota di Australia. Sontak semua terkejut, lalu seorang bule dari Hungaria yang kebetulan laptopnya online langsung ngecek di internet. Ternyata, tidak ada nama Septianus di sana. Aduh malunyaaaaa.... kalau kamu membuat berita bohong lihat2 dulu atau survey, mana ada lomba nobel fisika?...hahaha...dasar tolol...
|
|
Andi Liani
Perth, Australia
|
Kodok wrote: <quoted text> kalau kamu membuat berita bohong lihat2 dulu atau survey, mana ada lomba nobel fisika?...hahaha...dasar tolol... Kamu orang Indonesia tapi nggak ngerti bahasa mu sendiri. Coba simak baik-baik tulisan saya, disana tidak ada tulisan saya yang mengatakan lomba nobel fisika. Yang bodoh itu kamu dan Yohanes Surya yang menganggap untuk meraik Nobel Fisika, peserta harus terjun dalam berbagai event seperti cerdas-cermat tingkat SD, SMP, SMU, olimpiade fisika dst. Emangnya ini cabang olah raga? hahahaha.....huuuuuuuu
|
|
Kodok
Pusan, Korea
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Kamu orang Indonesia tapi nggak ngerti bahasa mu sendiri. Coba simak baik-baik tulisan saya, disana tidak ada tulisan saya yang mengatakan lomba nobel fisika. Yang bodoh itu kamu dan Yohanes Surya yang menganggap untuk meraik Nobel Fisika, peserta harus terjun dalam berbagai event seperti cerdas-cermat tingkat SD, SMP, SMU, olimpiade fisika dst. Emangnya ini cabang olah raga? hahahaha.....huuuuuuuu ternyata yang menganggap untuk meraik Nobel Fisika, peserta harus terjun dalam berbagai lomba adalah kamu sendiri. tidak ada yang berpendapat seperti itu. pemenang nobel ditentukan lobby dan tendensi politik, tetapi lomba/olimpiade ditentukan perlobaan dan pesertanya diadu secara fair. kamu mengakui atau tidak, kenyatannya pemuda dari Papua banyak yang telah berhasil menjadi juara olimpiade di tingkat internasional, kalau dari TL memang belum ada.
|
|
Achtung baby
Jakarta, Indonesia
|
Andi Liani wrote: <quoted text> TL kalau nggak ada mimpi, maka TL tidak akan seperti sekarang: Mall dan hotel berbintang mulai tumbuh dipelosok kota Dili. Gedung-gedung mewah tahun-tahun terakhir ini tumbuh dimana-mana. Ruang hijau atau taman kota sudah direhabilitasi semuanya. Kalau dari segi sumber daya manusia, lima tahun lagi hampir semua orang Timor Leste sudah fasih bahasa Portuguese. Indonesia pun kita masih kuasai dan tentu saja Tetum. Artinya, orang Timor Leste adalah polyglot. Mampu berbicara dalam banyak bahasa. Apalagi kedekatan kami dengan Australia, sudah otomatis bahasa Inggris sudah menjadi bukan bahasa asing lagi. Dari segi tingkat pendidikan. Banyak sekali pelajar dan mahasiswa (S-1) yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sebut saja, Australia, Inggris, Norwegia, Finlandia, Italia, Perancis, dst nya. Tercatat mahasiswa TL yang saat ini kuliah di Australia dan New Zealand 500 orang, Eropa 2000, Korsel 20, Jepang 30, Amerika Serikat 15 dan Amerika Latin 1000. Setiap tahun akan dikirim terus. Mereka semua itu sedang menperjuangkan mimpi bangsa kami, yaitu menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat dan makmur. Bilionan dolar yang TL miliki saat ini akan digunakan untuk mengirim mahasiswa kuliah di luar negeri, sisanya akan digunakan untuk membangun infrastruktur. Jadi apalagi yang kurang sih! Yang kurang dari Timor adalah kesadaran bahwa dia selama ini hidup karena ada yang menunjangnya, selama dgn portugis ratusan tahun sedikit sekali orang timor yang bisa baca tulis, selama 20 tahunan dengan Indonesia banyak sarjana dari D III s/d S -I dan ratusan kilometer jalan dibangun, ratusan gedung sekolah dibangun, yang dihasilkan. Selama hidup dengan australia banyak gedung mewah dibangun untuk kepentingan modal kapitalis dan selama ratusan tahun masih juga dibodohi oleh bangsa lain, kalian hidup dalam dunia SEMU. coba berani sedikit punya MIMPI sendiri!!!
|
|
Kodok
Pusan, Korea
|
Andi Liani wrote: <quoted text> TL kalau nggak ada mimpi, maka TL tidak akan seperti sekarang: Mall dan hotel berbintang mulai tumbuh dipelosok kota Dili. Gedung-gedung mewah tahun-tahun terakhir ini tumbuh dimana-mana. Ruang hijau atau taman kota sudah direhabilitasi semuanya. Kalau dari segi sumber daya manusia, lima tahun lagi hampir semua orang Timor Leste sudah fasih bahasa Portuguese. Indonesia pun kita masih kuasai dan tentu saja Tetum. Artinya, orang Timor Leste adalah polyglot. Mampu berbicara dalam banyak bahasa. Apalagi kedekatan kami dengan Australia, sudah otomatis bahasa Inggris sudah menjadi bukan bahasa asing lagi. Dari segi tingkat pendidikan. Banyak sekali pelajar dan mahasiswa (S-1) yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sebut saja, Australia, Inggris, Norwegia, Finlandia, Italia, Perancis, dst nya. Tercatat mahasiswa TL yang saat ini kuliah di Australia dan New Zealand 500 orang, Eropa 2000, Korsel 20, Jepang 30, Amerika Serikat 15 dan Amerika Latin 1000. Setiap tahun akan dikirim terus. Mereka semua itu sedang menperjuangkan mimpi bangsa kami, yaitu menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat dan makmur. Bilionan dolar yang TL miliki saat ini akan digunakan untuk mengirim mahasiswa kuliah di luar negeri, sisanya akan digunakan untuk membangun infrastruktur. Jadi apalagi yang kurang sih! kebanyakan ngomong tapi kenyatannya belum ada. negaramu mau utang ke China dan WB, tapi belum aku belum tahu juga dikasih utang atau tidak, dulu pernah diragukan soalnya nanti TL bayarnya pakai apa? tiap tahun duitnya habis tak tersisa..
|
Since: Sep 09
Yogyakarta, Indonesia
|
Mengejek dan menjelekan Yohanes Surya,dkk...?? mmm...aneh juga yah masak sih orang yang lebih bodoh dari mereka seperti anda ini kok tidak tahu diri yahh..! Cobalah lihat dirimu dan bangsamu itu..bisanya raih juara Olimpiade untuk saling bunuh dan minum mabok terus main pelacur mungkin bisa sekali...cobalah terima kelebihan orang lain...
"Sebenarnya orang yg dengki dan iri terhadap kelebihan orang lain adalah orang yg tidak bisa dan tidak meliki apa-apa"
|
|
Andi Liani
Perth, Australia
|
Kodok wrote: <quoted text> ternyata yang menganggap untuk meraik Nobel Fisika, peserta harus terjun dalam berbagai lomba adalah kamu sendiri. tidak ada yang berpendapat seperti itu. pemenang nobel ditentukan lobby dan tendensi politik, tetapi lomba/olimpiade ditentukan perlobaan dan pesertanya diadu secara fair. kamu mengakui atau tidak, kenyatannya pemuda dari Papua banyak yang telah berhasil menjadi juara olimpiade di tingkat internasional, kalau dari TL memang belum ada. Ternyata kamu dengan Lorohoras tidak bisa menangkap pembicaraan saya. Jadinya begini, kesalahpahaman atas apa yang saya ungkapkan. Saya ingin tanya sama anda, apa yang dilakukan Yohanes Surya kepada anak-anak asuhannya di asrama TOFI sebelum diterjunkan ke kompetisi olimpiade fisika dan matematika. Anak-anak itu di TC (Trainning Centre). Disitu mereka digodok dengan berbagai soal fisika dan matematika, layaknya latihan mengikuti olimpiade cabang olah raga atau juga sama dengan persiapan sebelum mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Di negara kamu terjadi banyak kesalahpahaman karena bahasa Indonesia tidak dikuasai oleh orang Indonesia sendiri. Jadinya, kisruh terus.
|
|
|
|
Andi Liani
Perth, Australia
|
Lorohoras wrote: Mengejek dan menjelekan Yohanes Surya,dkk...?? mmm...aneh juga yah masak sih orang yang lebih bodoh dari mereka seperti anda ini kok tidak tahu diri yahh..! Cobalah lihat dirimu dan bangsamu itu..bisanya raih juara Olimpiade untuk saling bunuh dan minum mabok terus main pelacur mungkin bisa sekali...cobalah terima kelebihan orang lain... "Sebenarnya orang yg dengki dan iri terhadap kelebihan orang lain adalah orang yg tidak bisa dan tidak meliki apa-apa" Saya terpaksa meluruskan kesalahpahaman kalian, karena Yohanes Surya telah mencoba menyesatkan bangsa Indonesia dengan menganggap Medali emas Olimpiade fisika/matematika itu setaraf dengan hadiah nobel fisika, terutama kualitas pesertanya. Supaya lebih jelas, bacalah dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, apa itu hadiah nobel fisika dan medali emas olimpiade fisika/matematika. Karena keduanya sangat berbeda dari kualitas penilaian. Pemenang Nobel fisika adalah sungguh-sungguh genius. Tapi pemenang medali emas olimpiade fisika/matematika adalah genius karbitan atau genius gadungan. Hanya bangsa preman yang menganggap pemenang medali emas olimpiade fisika adalah tolok ukur kemampuan sebuah bangsa. Bangsa yang pernah meraih Nobel Fisika adalah bangsa yang bukan main-main. Bangsa yang sungguh-sungguh hebat. Lihat saja Italia, Israel, German, USA, India etc. Indonesia hahahahahaha..... huuuuuu
|
|
Kodok
Pusan, Korea
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Ternyata kamu dengan Lorohoras tidak bisa menangkap pembicaraan saya. Jadinya begini, kesalahpahaman atas apa yang saya ungkapkan. Saya ingin tanya sama anda, apa yang dilakukan Yohanes Surya kepada anak-anak asuhannya di asrama TOFI sebelum diterjunkan ke kompetisi olimpiade fisika dan matematika. Anak-anak itu di TC (Trainning Centre). Disitu mereka digodok dengan berbagai soal fisika dan matematika, layaknya latihan mengikuti olimpiade cabang olah raga atau juga sama dengan persiapan sebelum mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Di negara kamu terjadi banyak kesalahpahaman karena bahasa Indonesia tidak dikuasai oleh orang Indonesia sendiri. Jadinya, kisruh terus. Kamu tanya tapi kamu sudah jawab sendiri, tapi jawabanmu hanya sebatas itu, kami mengerti kemampuanmu seperti apa jadi untuk sekarang kami kurang tertarik untuk debat denganmu, nanti kalau kamu sudah pintar baru aku layani debat. Tidak ada salahnya kamu membandingkan olimpiade science dan penghargaan nobel, meskipun penentuan pemenangnya sangat berbeda 180 derajat, karena kami tahu wawasanmu hanya sebatas itu, dan dalam hatimu juga mengharapkan kelak di TL ada juga punya orang seperti "Prof. Yohanes Surya", kalau sekarang ini tidak mungkinlah karena orang TL masih melarat dan ngemis bantuan internasional untuk makan.
|
Since: Sep 09
Yogyakarta, Indonesia
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Saya terpaksa meluruskan kesalahpahaman kalian, karena Yohanes Surya telah mencoba menyesatkan bangsa Indonesia dengan menganggap Medali emas Olimpiade fisika/matematika itu setaraf dengan hadiah nobel fisika, terutama kualitas pesertanya. Supaya lebih jelas, bacalah dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, apa itu hadiah nobel fisika dan medali emas olimpiade fisika/matematika. Karena keduanya sangat berbeda dari kualitas penilaian. Pemenang Nobel fisika adalah sungguh-sungguh genius. Tapi pemenang medali emas olimpiade fisika/matematika adalah genius karbitan atau genius gadungan. Hanya bangsa preman yang menganggap pemenang medali emas olimpiade fisika adalah tolok ukur kemampuan sebuah bangsa. Bangsa yang pernah meraih Nobel Fisika adalah bangsa yang bukan main-main. Bangsa yang sungguh-sungguh hebat. Lihat saja Italia, Israel, German, USA, India etc. Indonesia hahahahahaha..... huuuuuu Mas-mas kalau lagi nggak enak badan atau lagi diputis ama pacar mending lo kuras lagi otak lo buat corat coret tembok..percuma lo jelasin karena dasar pemikiran lo aja dah gak jelas.. Gini aja biar lebih singkat...coba lo liat diri lo terus lo bertanya pada diri sendiri, pertanyaannya gini : 1. Pernahkah saya membuat orang bangga dengan negara saya? 2. Apakah saya sudah sehebat orang2 Papua(sebatas papua aja jgn indonesia karena TL tdk ada apa2nya kalau dibanding Indonesia? semoga kamu bisa terima diri kamu apa adanya...
|
|
Andi Liani
Kulin, Australia
|
Lorohoras wrote: <quoted text> Mas-mas kalau lagi nggak enak badan atau lagi diputis ama pacar mending lo kuras lagi otak lo buat corat coret tembok..percuma lo jelasin karena dasar pemikiran lo aja dah gak jelas.. Gini aja biar lebih singkat...coba lo liat diri lo terus lo bertanya pada diri sendiri, pertanyaannya gini : 1. Pernahkah saya membuat orang bangga dengan negara saya? 2. Apakah saya sudah sehebat orang2 Papua(sebatas papua aja jgn indonesia karena TL tdk ada apa2nya kalau dibanding Indonesia? semoga kamu bisa terima diri kamu apa adanya... Jelas orang TL lebih hebat dari orang Papua, karena TL sudah berhasil bebas dari penjajahan Jakarta. Lebih lagi, mampu berdiri di atas kaki sendiri. Mampu mendidik anak-anak dengan hasil keringat sendiri. Bahkan TL lebih hebat dari Indonesia karena mampu bernegosiasi dengan Australia dapat mendapatkan 90% dari pendapatan minyak laut Timor. Sementara Indonesia cuma dapat kurang dari 5% dari semua kesepakatan pembagian hasil bumi. Kalau kamu (Lorohoras) adalah manusia yang tidak punya tanah air. Mengemis kesana-kemari bahkan mungkin jual diri. Dasar penjilat!
|
|
Andi Liani
Perth, Australia
|
Kodok wrote: <quoted text> Kamu tanya tapi kamu sudah jawab sendiri, tapi jawabanmu hanya sebatas itu, kami mengerti kemampuanmu seperti apa jadi untuk sekarang kami kurang tertarik untuk debat denganmu, nanti kalau kamu sudah pintar baru aku layani debat. Tidak ada salahnya kamu membandingkan olimpiade science dan penghargaan nobel, meskipun penentuan pemenangnya sangat berbeda 180 derajat, karena kami tahu wawasanmu hanya sebatas itu, dan dalam hatimu juga mengharapkan kelak di TL ada juga punya orang seperti "Prof. Yohanes Surya", kalau sekarang ini tidak mungkinlah karena orang TL masih melarat dan ngemis bantuan internasional untuk makan. Sangat amat tidak mengharapkan orang seperti Yohanes Surya (YS) di TL. Kalian terlalu menyanjung spesies kayak yang berinisial YS, makanya hingga kini negara kamu selalu terpuruk dan terombang-ambing dalam jutaan skandal. Apa jadinya TL, kalau orang kayak YS dan Angodo ada di TL. Aduh, pasti kisruh terus...
|
|
Andi Liani
Broome, Australia
|
Kodok wrote: <quoted text> Kamu tanya tapi kamu sudah jawab sendiri, tapi jawabanmu hanya sebatas itu, kami mengerti kemampuanmu seperti apa jadi untuk sekarang kami kurang tertarik untuk debat denganmu, nanti kalau kamu sudah pintar baru aku layani debat. Tidak ada salahnya kamu membandingkan olimpiade science dan penghargaan nobel, meskipun penentuan pemenangnya sangat berbeda 180 derajat, karena kami tahu wawasanmu hanya sebatas itu, dan dalam hatimu juga mengharapkan kelak di TL ada juga punya orang seperti "Prof. Yohanes Surya", kalau sekarang ini tidak mungkinlah karena orang TL masih melarat dan ngemis bantuan internasional untuk makan. Susah berdiskusi dengan orang tolol macam kamu. Kamu percaya sama orang Tionghoa kayak Yohannes Surya cs makanya negara kamu telah menjadi negara paling aneh di dunia. Coba lihat kasus Bank Century, Robert Tantular dihukum hanya 4 tahun, bandingkan dengan jumlah kerugian yang diderita negaramu. Lihat juga Artalita dihukum hanya 4 tahun, sementara Jaksa Urip dihukum sampai 20 tahun. Padahal mereka terlibat dalam kasus yang sama sebagai yang menyuap dan disuap. Ada lagi kasus PT Masaro, Anggodo yang jelas-jelas merekayasa kriminalisasi KPK dianggap tidak memiliki bukti cukup untuk menjadikannya tersangka. Juga lihat kasus Antasari Azar yang sengaja diskenariokan POLRI dan Kejaksaan (atas sogokkan dari pengusaha-pengusaha Tionghoa) dibuat seolah-olah Antasari-lah the man behind pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Dari situ kamu seharusnya bisa menyimpulkan bahwa apa sesungguhnya maksud Yohanes Surya dengan propaganda medali emas Olimpiade Fisika? Kalau dia orang baik-baik, dia pasti mengatakan medali emas Olimpiade fisika tidak sama dengan Nobel Fisika. Agar rakyat Indonesia tidak larut dalam KEBANGGAAN SEMU. Kamu memang tidak peduli, karena kamu nggak bisa menempatkan perasaan nasionalisme mu dimana, karena memang kamu "terpaksa mencintai" Indonesia karena benci dengan Timor Leste yang telah "melukai" hatimu.
|
Since: Sep 09
Yogyakarta, Indonesia
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Jelas orang TL lebih hebat dari orang Papua, karena TL sudah berhasil bebas dari penjajahan Jakarta. Lebih lagi, mampu berdiri di atas kaki sendiri. Mampu mendidik anak-anak dengan hasil keringat sendiri. Bahkan TL lebih hebat dari Indonesia karena mampu bernegosiasi dengan Australia dapat mendapatkan 90% dari pendapatan minyak laut Timor. Sementara Indonesia cuma dapat kurang dari 5% dari semua kesepakatan pembagian hasil bumi. Kalau kamu (Lorohoras) adalah manusia yang tidak punya tanah air. Mengemis kesana-kemari bahkan mungkin jual diri. Dasar penjilat! Kamu terlalu lama hidup dalam banyang-banyang tak pasti, karena sebenarnya warga TL termasuk anda tidak akan pernah lepas dari banyangan Ilusi yg dibuat oleh para pemimpin kamu sendiri. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka negara TL tidak akan pernah lepas dari Indonesia 100%...buktinya sekarang saja pemerintah kamu belajar peraturan Transportasi kepada Pemerintah Indonesia...itu hanya salah satu dari sekian banyak ketergantungan TL ke Indonesia. Saya tidak pernah lihat atau pun mendengar kehebatan positif yg di ukir negara TL...buktinya baru2 ini ada kongres intelektual muda se-Asia Timur, saya sempat melihat bedera TL tapi saya heran kok orangnya tidak ada...ahhh ironis...kok benderanya aja yg di kirim.. jadi jangan kamu bangga-banggakan TL kepada saya karena saya sangat MUAK dengan omongan mulut besar kamu yg hanya sampah semua hasilnya.
|
Since: Sep 09
Yogyakarta, Indonesia
|
Timor Leste Belajar Peraturan Transportasi ke Indonesia Rabu, 25 November 2009 22:38 WIB
Kupang,(tvOne)
Sebanyak 11 orang dari Departemen Transportasi Darat Timor Leste melakukan studi banding di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) guna memperlajari peraturan sistem transportasi darat Indonesia, sebagai bahan menyempurnakan rancangan undang-undang perhubungan di negara itu. "Selama lima hari, kami pelajari peraturan di Indonesia yang mengatur tentang perhubungan. Terutama sistem transportasi darat untuk selanjutnya menyempurnakan rancangan undang-undang perhubungan," kata Direktur Nasional Transportasi Darat, Timor Leste, Silvester De Oliviera, di Kupang, Rabu (25/11).
Menurutnya, manajemen sistem transportasi darat di Indonesia sudah standar dan baku, sehingga Timor Leste memandang penting untuk mempelajarinya, terutama transportasi darat. "Dari aspek topografi wilayah, antara Indonesia khususnya NTT hampir sama yaitu wilayah kepulauan. Tidak salah kalau kami memilih melakukan studi banding di NTT, sehingga lebih mempermudah topik-topik yang ingin dipelajari dan dibandingkan," katanya
Ia menyebutkan, enam topik yang dipelajari selama berada di Kupang, yakni pendaftaran kendaraan, izin operasi, tarif angkutan, jurusan atau rute dan jenis-jenis pajak kendaraan. Topik-topik ini, katanya, sangat penting dipelajari dan dibandingkan oleh staf Departemen Transportasi Darat Timor Leste untuk memperkaya dan memperlancar proses penyusunan dan penetapan peraturan di negara itu.
Oliviera mengaku senang karena mendapat pelayanan yang baik dari Pemerintah Provinsi NTT, sehingga sasaran diharapkan terpenuhi. "Kami berterima kasih kepada Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang menugaskan Dinas Perhubungan memfasilitasi kami selama lima hari melakukan studi banding peraturan-peraturan termasuk sistem dan manajemen di sejumlah lembaga yang berkaitan dengan transportasi darat," katanya.
Kepala Dinas Perhubungan NTT Gulam Husain, yang diminta konfirmasi mengatakan, kedatangan 11 orang dari Departeman Transportasi Darat Timor Leste untuk mempelajari regulasi dan sistem manajemen transportasi darat. "Tim dari negera tetangga ini juga berkesempatan magang juga di sejumlah instansi, seperti Samsat Kupang, Dinas Pendapatan Daerah dan unit pelaksana teknis (UPT) daerah yang berkaitan dengan transportasi darat.(Ant
|
|
Kodok
Pusan, Korea
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Susah berdiskusi dengan orang tolol macam kamu. Kamu percaya sama orang Tionghoa kayak Yohannes Surya cs makanya negara kamu telah menjadi negara paling aneh di dunia. Sudah idi*t, racis pula...
|
|
Indowiseman
Sleman, Indonesia
|
Andi Liani wrote: <quoted text> Itu pesawat buatan CASA spanyol. Jadi teknologi kuno dari Spanyol. Coba lihat yang kerja di situ, orang bule semuaaaaa. Kamu aja yang nggak tahuuuu! CN-235 adalah joint production antara PTDI dan CASA dan bukan lisensi dari CASA. Kamu harus bisa membedakan mana yang lisensi dan mana yang Joint Production.
|
|
Kodok
Pusan, Korea
|
PTDI sudah menjadi langganan untuk membuat komponen pesawat Boeing berbagai model, itu artinya orang bule sudah percaya hasil karya orang Indonesia, tapi tidak itu saja, bagi yang pernah naik pesawat Airbus alangkah baiknya membaca juga berita ini: ----------
01 December 2009 IAe and Spirit AeroSystems sign contracts for manufacture of aerospace components
Today, PT Dirgantara Indonesia/Indonesian Aerospace (IAe) and Spirit AeroSystems (Europe) Limited sign contracts for manufacturing aerospace components for the Airbus A320, A321, A330, and A340 aircraft at the IAe exhibition stand at LIMA (Langkawi).
The contract is signed by Budi Santoso as IAe President Director and Neil McManus, Vice President and Managing Director of Spirit AeroSystems (Europe) Limited. For the last five years, IAe has been manufacturing Airbus components on behalf of Spirit AeroSystems, such as D-nose, Pylon Assemblies, and Leading Edge Skins. The contract being signed is an extension of this workload for a further 5 years and could be worth IDR 273 billion.
Budi Santoso states that the contract is proof of Indonesian capabilities in manufacturing international standard aircraft components. Additionally he states that the long and effective relationship with Spirit AeroSystems has made them a particularly valuable customer that IAe wishes to continue to develop new and important opportunities with.
|
|
Andi Liani
Perth, Australia
|
Kodok wrote: PTDI sudah menjadi langganan untuk membuat komponen pesawat Boeing berbagai model, itu artinya orang bule sudah percaya hasil karya orang Indonesia, tapi tidak itu saja, bagi yang pernah naik pesawat Airbus alangkah baiknya membaca juga berita ini: ---------- 01 December 2009 IAe and Spirit AeroSystems sign contracts for manufacture of aerospace components Today, PT Dirgantara Indonesia/Indonesian Aerospace (IAe) and Spirit AeroSystems (Europe) Limited sign contracts for manufacturing aerospace components for the Airbus A320, A321, A330, and A340 aircraft at the IAe exhibition stand at LIMA (Langkawi). The contract is signed by Budi Santoso as IAe President Director and Neil McManus, Vice President and Managing Director of Spirit AeroSystems (Europe) Limited. For the last five years, IAe has been manufacturing Airbus components on behalf of Spirit AeroSystems, such as D-nose, Pylon Assemblies, and Leading Edge Skins. The contract being signed is an extension of this workload for a further 5 years and could be worth IDR 273 billion. Budi Santoso states that the contract is proof of Indonesian capabilities in manufacturing international standard aircraft components. Additionally he states that the long and effective relationship with Spirit AeroSystems has made them a particularly valuable customer that IAe wishes to continue to develop new and important opportunities with. Paling yang dibuat adalah baut, mor dst. Bukan mesin pesawat!
|
|
|